Monday, 22 November 2010

Flickr or Picasa

Flickr dan Picasa adalah sama2 komunitas fotografi atau image hosting di dunia maya. Berikut perbedaan dari keduanya berdasarkan pengalaman saya menggunakan social community tersebut.

Beberapa hal yang menarik dari Picasa
1. Diakusisi oleh Google pada tahun 2004. Nama Picasa tersebut diambil dari nama pelukis terkenal asal Spanyol, Pablo Picasso.
2. Dapat mengedit gambar secara online, cukup meng-klik di tombol edit kita akan diarahkan ke aplikasi picnik.com. Feature dari aplikasi ini tidak banyak, namun cukuplah kalo kita hanya mau mengedit brigthness atau crop, resize dan exposure.
3. Apabila kita menulis blog dari Google, kita dapat langsung menambahkan gambar2 kita yang sudah diupload, jadi tidak perlu lagi upload dari komputer.
4. Info dari photo tersebut.

5. Storage max adlaah 1 GB, apabila ingin lebih kita harus membayar.

Beberapa hal yang menarik dari Flickr
1. Diakuisi oleh Yahoo pada tahun 2005.
2. Feature Exam-Diff. Exam-diff merupakan data dari sebuah gambar pada saat diambil misalnya camera dan lensa yang digunakan, berapa speed dan aperture yang digunakan, sehingga kita juga dapat mempelajari settingan dari sebuah photo. Bahkan di camera2 keluaran terbaru, metada file ini juga dilengkapi oleh copyright, jadi kita bisa menambahkan nama kita sebagai hak cipta.


3. Mempunyai feature 'tags'. Feature tersebut digunakan untuk mempermudah pencaharian gambar berdasarkan tags yang kita berikan. Misalnya kita upload photo gunung lalu kita kasih tags 'gunung' atau 'mountain' atau 'landscape'. Jadi apabila ada orang search tags diatas, maka gambar kita akan muncul.
4. Storage max adalah unlimited. Namun apabila kita menggunakan free version kita hanya dapat mengakses 200 gambar terakhir kita, untuk dapat mengakses keseluruhan kita harus upgrade ke pro version.

Saat ini, komunitas dari Flickr jauh lebih banyak daripada Picasa. Jadi pilih mana Picasa atau Flickr, kalau saya pakai dua2nya aja karena keduanya sekarang didevelop oleh dua perusahaan internet terkemuka, Google dan Yahoo, jadi kita tunggu aja inovasi keduanya.

cheers,

Thursday, 18 November 2010

Canon 550D 24-105mm EF-L

Di awal September akhirnya saya membeli camera Canon 550D dengan lensa 24-105mm EF-L. SLR camera yang selama ini saya inginkan :)

Alasan pemilihan menggunakan Canon adalah tentu saja karena papa saya menggunakan SLR canon, 'like father like son' :) dan pemilihan body 550D atau disebut juga Rebel T2i adalah sebagai berikut:
  1. Harganya.
  2. Terbilang baru (February 2010) di Canon SLR jadi banyak penyempurnan feature terdahulu sehingga kemampuannya tidak beda jauh dengan 50D yang satu kelas diatasnya. Di www.dpreview.com disebutkan T2i sebagai 'baby EOS 7D' lengkap dengan perbandingannya.
  3. Baru belajar, sehingga pemilihan 550D sebagai entry level (paling simple penggunaannya) saya kira cukup. (sebenarnya cuma alasan no:1 tapi yg kedua sebagai informasi aja :p
Untuk membandingkan secara spesifikasi teknis bisa di cek di web berikut:
http://www.imaging-resource.com/CAMDB/compare_results.php

Untuk lensanya, saya memilih 24-105mm EF-L dikarenakan lensa ini mempunya range yg beragam, dari 24mm untuk wide-photo sampai 105mm untuk zoom-photo namun tidak ekstrim, jadi saya tidak perlu mengganti-ganti lensa. Selain itu lensa ini termasuk ring merah sehingga apabila nanti saya mengupgrade body kevel 5D (full-frame) keatas (insya Allah), lensa2 itu masih bisa terpakai (bandingkan dengan lensa kelas EF dan EF-S yang tidak compatible dengan 5D keatas).

Untuk accessoriesnya saya menggunakan filter UV merk Kenko agar lensa tidak terbuka langsung untuk mecegah adanya kotoran atau goretan, pembersih lensa dan tas tentunya.

Nah sekarang saatnya belajar moto. Lets take a shoot!.

Sunday, 14 November 2010

Speed and Aperture

Setelah beberapa bulan mencoba camera baru dan membaca beberapa artikel, hal paling penting dari fotogrfi adalah cahaya yang terkait dengan 2 parameter yaitu speed dan aperture/diafragma/bukaan.


Aperture
Aperture adalah bukaan diafragma atau bukaan lensa, biasa disebut f/1.8, f/4, f/20 dan seterusnya. F/1.8 lebih besar daripada f/4. Semakin besar bukaan lensa, semakin banyak sinar yang masuk atau ditangkap, sehingga gambar menjadi lebih terang.

Speed
Speed adalah kecepatan bukaan lensa tersebut, misal 2″ (2 sec), 1/10, 1/500 dan seterusnya. 1/10 lebih lama daripada 1/500. Semakin lama kecepatan, maka semakin lama lensa menyerap cahaya, sehingga semakin terang warna yang didapat.

Sunday, 7 November 2010

Birdwatching Trip - Pulau Seribu

Perjalanan ini merupakan perjalanan adventurir saya yang pertama sejak perjalan yang saya pikir cukup adventurir yaitu ke Bromo sekitar tahun 1997. Hmm.., ngapain aja ya saya selama ini, padahal saya seneng sekali jalan2. Jalan2 ini diprakarsai oleh teman saya Suwandi Ahmad yang aktif di LSM dalam hal observasi alam dan pelestarian lingkungan.


Muara Angke
Perjalanan ini dimulai di Dunkin Donuts Citraland jam 6.30 pagi..., tempat yang dulu sering saya singgahi. Sesampainya disana saya bertemu dengan beberapa teman saya, beberapa teman baru dan EO dari acara ini tentunya.





Dari Citraland kita menuju suaka margatsatwa Muara Angke (SMMA). Saya baru tau, bahwa di Jakarta ini ada suaka margasatwa. SMMA yang berfungsi sebagai serapan air dan reservasi alam ini kini hanya seluas 25 hektar, dan merupakan suaka margastwa terkecil di Indonesia. Sebagian besar lahan SMMA kini telah digunakan untuk pemukiman dan areal bisnis.


Sesampainya di SMMA kita mendapatkan sarapan pagi berupa teh hangat dan kue2 kampung yang enak. Sambil sarapan dan ngobrol2 dengan beberapa teman baru, saya mencoba memoto beberapa monyet ekor panjang di deket dermaga kecil SMMA. Setelah itu kita berjalan menyusuri jembatan kayu yang membelah rawa SMMA

Di SMMA kita menunggu agak lama karena boat yang akan kita tumpangi tersangkut sampah, sehingga kita berangkat dari SMMA menggunakan kapal kecil seukuran sekoci menuju boat. Selama di dalam sekoci, saya kaget sekali melihat sampah bertebaran, beberapa diantaranya sudah berubah menjadi bukit sampah. Menurut teman kami, sekitar tahun 1980an kedalaman sungan Muara Angke sekitar 23m, namun kini hanya 1,5-2m selebihnya sampah.




Sungai Muara Angke merupakan pertemuan dari 13 sungai di Jakarta, jadi tau kan kemana sampah2 yang bejibun di sungai2 itu berujung?. Sungguh tragis, seharusnya warga Jakarta melihat keadaan ini dan siap2 untuk banjir yang semakin parah!.


Pulau Onrust
Sekeluarnya kami dari sungai Muara Angke, kami menuju ke pulau Onrust, pulau terdekat. Pulau Onrust (bahasa Belanda) diartikan sebagai un-rest dalam bahasa Inggrisnya. Sesuai dengan namanya, pulau ini menyimpang banyak sekali sejarah. 





Mulai dari benteng pertahan di jaman kolonial Belanda, tempat penyiksaan orang Indonesia di penjajahan Jepang, asrama Haji sebelum berlayar ke Mekkah diawal tahun 1900an dan tempat pembuangan penderita lepra/gelandangan di jaman bapak Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta. Namun sayang pulau Onrust yang menyimpan banyak sejarah itu kini sangatlah kotor, dermaganya kini dipenuhi sampah yang hanyut dari Muara Angke.




Pulau Untung Jawa
Pulau ini tempat kita makan siang, jalan sedikit dari dermaga, mentok belok kiri trus ketemu deh warung ibu haji, makan nasi anget2, ikan bakar yang maknyus dan segar, sayur asem dan sambel yang muanteb.



Di pulau kecil ini terdapat sebuat kampung yang cukup padat, dimana penduduknya hidup dari turis2 lokal yang biasanya datang dari areal Tanggerang Selatan. Oleh karena itu di sebalah sisi pantainya terdapat tenda2 yang menjual makanan dan menyewakan ban dalam untuk berenang. Disisi tengahnya terdapat rumah2 yang menjual bereneka makan seafood, sayangnya penjual jauh lebih banyak daripada pengunjung, sehingga sebagian besar tidak ada pengunjungnya sama sekali.


Pulau Rambut/ pulau Burung.
The main destination!!.. Pulau bersarangnya ratusan jenis burung yang ada, juga merupakan satu2nya tempat yang disinggahi dalam migrasi burung di areal kepulauan seribu. Tidak pernah ada yang tau jawabannya kenapa burung2 yang bermigrasi tersebut hanya singgal di pulau burung ini, tidak ke pulau Onrust, pulau Pramuka atau pulau2 lainnya.




Pada saat mendekati pulau ini, terlihat cukup banyak bergerombol hilir mudik disekitar kami, diantaranya ada yang membentuk huruf V, formasi andalan burung yang banyak sekali arti dan makna dibaliknya. Sesampainya di pulau ini kami dikenalkan ke pak Buang yang tugasnya menjaga ekosistem di pulau tersebut mulai sekitar 30 tahun yang lalu. Untuk kerja keras yang tidak kenal lelah dalam usahanya ini, pak Buang pernah mendapatkan hadiah Kalpataru dari ibu Megawati. Namun sayangnya usahanya ini tidak disupport dengan baik pemerintah kita.




Untuk melihat burung2 lebih jelas, kami menaiki sebuh tower setinggi 30m dimana tower itu lebih tinggi dari rata2 pucuk pohon tempat burung2 bertengger, Merupakan pemandangan yang spektakuler bagi saya bisa melihat begitu banyaknya berbagai macam burung2 berterbangan. 





Banyak sekali nama burung yang dijelaskan oleh teman kami, namun saya hanya ingat burung Pecuk, Kepodang, Elang Jawa dan tentunya Christmas Frigate yang merupakan pemangsa tertinggi di area ini. Sayang sekali lensa yang saya bawa tidak bisa range jauh sehingga saya tidak bisa mencapture burung2 tersebut dari dekat (dalam hati saya merencanakan untuk kembali ke pulau ini lagi dengan membawa lensa tele jarak jauh). 






Setelah itu beberapa dari kami mencoba mengcapture sunset (salah satu moment favorite untuk take a picture).


Di pulau ini kita menginap di sebuh pendopo depan pantai dan dinnernya di kirim dari pulau Untung Jawa (seperti biasa menu khas dari ikan segar dan sambel). Bertepatan dengan trip kita ini terdapat sekitar seratus mahasiswa yang sedang mengobservasi perilaku burung, sehingga kami harus mengantri ke toilet yang cuma dua :p, namun berbincang2 dengan beberapa teman2 baru yang menarik membuat saya lupa masalah toilet tadi sampai akhirnya tidak mandi sampai subuh.


Paginya kami kembali untuk melihat burung di tower sekalian mengambil foto/moment yang lebih baik sambil mendengarkan celotehan dari kawan kami tentang burung2 disini, membuat kita tidak hanya melihat keindahan dari burung2 tersebut, tapi juga memperhatikan perilaku dan aktifitasnya seperti membuat sarang dan memberi makan anak2nya. Setelah cukup lama di tower, kamipun kembali ke pendopo yang berada sekitar 300 meter. 






Di perjalan kami melihat biawak yang cukup besar (sekitar 2meter), namun sayangnya biawak itu lari menjauh sebelum kita sempat mefotonya. Di pendopo, kamipun bersiap-siap untuk pulang dan bermalas-malasan di depan pantai semalas saya tau karena habis ini harus balik ke Jakarta dan menghadapai rutinitas esoknya. 






Di perjalanan pulang, saya sempat mengabadikan beberapa photo betapa peliknya kehidupan di daerah ini, sampah2 bertebaran di muara angke, pendangkalan sungai dan laut tanpa ada kelihatan sedikitpun untuk memperbaiki keadaan ini. 
Hmm... sebuah perjalanan yang menarik sekliagus ironis :)





LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...